www.halopolisi.com menyajikan berita dan informasi seputar dunia kriminal dan kegiatan kepolisian, kegiatan TNI, serta peristiwa umum. || Dapatkan info jadwal SIM dan Samsat Keliling Jatim setiap hari di halopolisi.com. || Jika Anda menemui penyimpangan tindakan anggota Polri atau PNS Polri, catat nama, pangkat dan kesatuan anggota tersebut. Laporkan ke Div Propam Polri melalui No Telp (021-7218615) atau pengaduan di Website Div Propam Polri (www.propam.polri.go.id) atau twitter Div Propam Polri (@propampolri) atau Facebook Div Propam Polri(propam.polri).

Jampidsus Arminsyah Raih Gelar Doktor dengan Cumlaude

arminsyahSURABAYA (halopolisi.com) – Jaksa Agung Muda bidang Pidana Khusus (Jampidsus) Arminsyah berhasil meraih gelar cumloude dengan Indek Prestasi Komulatif (IPK), 3,92, lewat desertasi berjudul Redefinisi Hukum Konsep Kesengajaan dalam Tindak Pidana Korupsi.

Pria yang sebelumnya menjabat sebagai Jaksa Agung Muda Intelejen (Jamintel) itu pun mendapat penghargaan sebagai lulusan terbaik dalam Yudisium Program Pasca-Sarjana Hukum Universitas Airlangga (Unair) di Aula Fakultas Hukum Unair, Jumat (18/3/2016),

Arminsyah menjelaskan selama ini dalam menangani tindak pidana korupsi hanya melihat dari unsur keterlibatan dan pengetahuan. Para pelaku akan dihukum sesuai dengan proses keterlibatannya dan pengetahuannya dalam tindakan korupsi.

“Penetapan sebagai tersangka korupsi tidak hanya dua itu. Korupsi itu akan terjadi bila orang itu sengaja untuk melakukannya,” jelasnya. Korupsi di Indonesia ini sudah ada dimana-mana. Akan tetapi, belum tentu orang yang berada di lingkungan korupsi itu melakukan tindakan korupsi.

Misalnya, orang itu bekerja sebagai bendara dan ditugasi membuat perubahan anggaran sesuai permintaan atasannya. Bendara tidak berani menolak perubahan anggaran karena tidak mengetahui. Namun, ketika ada audit, bendahara terkena kasus korupsi karena anggaran dibuat oleh dia.

Arminsyah yang pernah menjabat Kajati Jatim ini menyatakan, guna membuktikan kesengajaan pelaku korupsi, seorang jaksa ataupun hakim bisa melakukan dengan tiga pendekatan.

Di antaranya, pendekatan koherensi, yakni mengkaji dan menganalisis kekonsistenan keterangan dan pengalaman tersangka. Semakin banyak pengalaman, maka indikasi kesengajaannya makin meningkat.

Kedua, pembuktian dengan pendekatan linguistik atau ilmu kebahasaan. Untuk membuktikan kebenarannya harus dikaji lewat struktur informasi dan keterangan tersangka. Ketiga, pembuktian dengan pendekatan psikologi mulai dari menganalisis keutuhan, kekonsistenan pikiran, perbuatan, dan tindakan pelaku.(wis/abi)

FOTO: Arminsyah (dok)


Baca juga:

  • John Robert Power Gelar Buka Puasa Bersama
  • Buktikan ECCT Sembuhkan Kanker, Sahudi Raih Gelar Doktor
  • IJTI Deklarasikan Jurnalisme Positif
  • Peringati HAN, Grand City Mall Surabaya Gandeng WVI Gelar Kampung Anak Negeri
Tentang Kami || Redaksi|| Kontak || Disclaimer||
Copyright © 2014 HALOPOLISI.