Hotel Majapahit Dukung Program doctorSHARE Jangkau Daerah Terpencil

SURABAYA (halopolisi.com) – Belum meratanya fasilitas kesehatan di Indonesia, terutama di wilayah pelosok dan pedesaan serta rentannya kondisi geografis Indonesia terhadap bencana alam membuat masyarakat pra-sejahtera mempunyai kendala berlapis untuk mendapatkan layanan kesehatan. Dalam banyak kasus, kesehatan adalah satu-satunya harta dan modal untuk melanjutkan hidup hari demi hari.

Individu-individu yang tergabung dalam doctorSHARE terpanggil untuk menjawab tantangan tersebut. doctorSHARE memilih untuk mengabdikan diri untuk membantu masyarakat yang terjebak dalam krisis mendapatkan kembali kesehatannya, sehingga masyarakat mampu untuk kembali beraktivitas dan melanjutkan kehidupannya.

Penghujung Maret 2009, doctorSHARE tengah melakukan pelayanan medis di Langgur, Pulau Kei Kecil, Maluku Tenggara. Saat melangsungkan pelayanan bedah, di luar rencana datang seorang ibu membawa anak perempuannya yang berusia sembilan tahun dalam keadaan usus terjepit. Mereka telah berlayar selama tiga hari dua malam mengarungi lautan menggunakan sampan.
Menurut teori medis, seseorang dengan usus terjepit harus sudah dioperasi dalam waktu enam hingga delapan jam. Pada akhirnya anak perempuan tersebut berhasil dioperasi dan mukjizat mengantarnya menuju kesembuhan.

Peristiwa tersebut menggugah hati pendiri doctorSHARE, dr. Lie Dharmawan. Bayangan anak perempuan tersebut selalu melintas dalam benaknya. Beliau pun terpanggil melakukan sesuatu bagi mereka yang tidak mendapatkan pelayanan medis sebagaimana mestinya karena kendala geografis dan kondisi finansial. Ide utamanya adalah “jemput bola” melalui Rumah Sakit Apung (RSA) di atas sebuah kapal.

Tahun demi tahun terus dilalui doctorSHARE dengan misi sosialnya, keberhasilan program RSA pertama yang dinamakan RSA dr. Lie Dharmawan mendorong berbagai pihak untuk berkontribusi. Lahir RSA kedua dengan nama RSA Nusa Waluya I hasil kerja sama doctorSHARE dengan Yayasan Ekadharma. Berselang beberapa tahun kemudian, hadir RSA ketiga berbentuk tongkang (barge) dengan nama RSA Nusa Waluya II yang merupakan buah kerja sama dengan perusahan maritim PT. Multi Agung Sarana Ananda (MASA).

Sepanjang perjalanannya, doctorSHARE telah menangani 48,240 pasien umum, 883 pasien operasi mayor, 2,477 pasien operasi minor, 972 pasien kandungan, dan 8,878 peserta penyuluhan kesehatan. Masyarakat yang dilayani merupakan masyarakat pra-sejahtera yang tinggal di pulau-pulau dan daerah terpencil di penjuru Indonesia.

Program yang berjalan hingga detik ini salah satunya adalah RSA Nusa Waluya II. Hampir dua bulan RSA Nusa Waluya II bersandar di Pelabuhan Pantoloan, Kota Palu, Sulawesi Tengah. RSA Nusa Waluya II hadir di Palu dalam misi pemulihan pasca-bencana di Sulawesi Tengah pada 15 November 2018. Puluhan relawan medis maupun non-medis bergantian didatangkan guna memuluskan misi sosial di Sulawesi Tengah.

Dalam waktu kurang dari dua bulan ini, RSA Nusa Waluya II telah melayani 3,066 pasien poli umum, 64 pasien poli bedah, 238 pasien poli kandungan, 431 pasien poli gigi, dan 122 pasien Instalasi Gawat Darurat (IGD). Selain poli dan IGD, tim relawan doctorSHARE juga telah melayani 62 pasien operasi minor, 27 pasien operasi mayor, dan 12 pasien ibu melahirkan.

Tim relawan juga terjun ke lokasi pengungsian dan sekolah untuk penanganan trauma psikis pasca-bencana. Dalam sesi ini diharapkan tim relawan membantu ratusan masyarakat terdampak bencana keluar dari rasa takut, panik, dan sedih. Selain itu, program pemberdayaan tenaga medis lokal juga rutin dilaksanakan. Tujuannya untuk penguatan tenaga kesehatan lokal secara kompetensi, ilmu, dan praktik guna mendukung masyarakat keluar dari masalah kesehatannya.

Rencananya RSA Nusa Waluya II akan berada di Palu hingga 15 Februari 2019 untuk selanjutnya melanjutkan misi di Tanimbar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku. ). Sebagai Rumah Sakit Apung tongkang pertama di Indonesia dan di dunia, RSA Nusa Waluya II akan melayani masyarakat di Kepulauan Maluku dengan model pelayanan kesehatan pertama yang terintegrasi antara pengadaan fasilitas RSA dan program pemberdayaan masyarakat serta tenaga medis setempat.

Selain dari program Rumah Sakit Apung, doctorSHARE mempunyai 3 program utama yang lain, di antaranya (1) Flying Doctors atau Dokter Terbang untuk menjangkau daerah pegunungan di Papua, (2) Panti Rawat Gizi atau Therapeutic Feeding Centre (TFC) untuk merawat anak-anak dengan status gizi buruk dan gizi kurang dengan penyakit penyerta dan (3) Disaster Response atau bantuan darurat medis saat bencana.

Kebutuhan dan berjalannya program-program kesehatan ini tidak lepas dari kerja sama semua pihak yang telah mendukung doctorSHARE. Salah satunya melalui acara New Year’s Dinner Gathering with dr. Lie Dharmawan. Acara ini dibentuk untuk kalangan sahabat yang peduli terhadap kondisi kesehatan di Indonesia.

Acara yang diadakan di Hotel Majapahit, Surabaya telah diselenggarakan atas inisiatif oleh Charles Menaro, Lizza Hendriadi, Paula Harris, Sugito Winarko dan Sylvia Pangkey. Adapun tujuan dari acara ini ialah untuk menggalang dukungan dan partnership dalam mengembangkan program doctorSHARE kedepannya. Dengan adanya acara ini diharapkan membawa kepedulian kita semua terhadap kondisi kesehatan masyarakat yang tidak mampu dan tidak terjangkau – dan kesadaran bahwa bersama, perubahan bisa tercapai dengan baik.

“Dengan adanya program ini kami bertujuan untuk menyelamatkan hidup dan mengurangi penderitaan mereka yang terjebak dalam krisis sehingga mereka akan dapat membangun kembali masa depan mereka,” kata dr. Lie Dharmawan.(rls/ziz)

Tag: